AKULTURASI BUDAYA HINDU DAN ISLAM DALAM HIASAN ORNAMEN MASJID ASTANA SULTAN HADLIRIN (MANTINGAN, JEPARA)
DOI:
https://doi.org/10.20414/society.v15i2.12058Abstract
Masjid Mantingan atau juga sering di kenal sebagai Masjid Astana Sultan Hadlirin yang terletak di Desa Mantingan, Kabupaten Jepara. Didirikan pada tahun 1559, masjid ini dikenal sebagai pusat penyebaran Islam di pesisir utara Jawa. Berbeda dengan masjid yang lainnya, Masjid Astana Sultan Hadlirin sendiri menyimpan banyak Sejarah dan memiliki arsitektur yang mencerminkan akulturasi budaya Hindu Budha, Jawa (Islam) dan Tionghoa yang dapat dilihat dari arsitekturnya yang berbentuk atap tumpang dan banyak ukiran-ukiran yang berada pada dinding masjid. Selain sebagai tempat ibadah, kompleks masjid ini juga berfungsi sebagai makam Sultan Hadlirin, suami Ratu Kalinyamat sendiri, yang menjadikannya sangat penting dalam Sejarah dan budaya local.
Kata kunci: Masjid Mantingan, Akulturasi Budaya, Sejarah.
Downloads
References
Anon. 2008. “Masjid Mantingan.”
Ardian Putra, Eko Roy. 2019. “Makna Simbolis Pada Ragam Hias Masjid Mantingan Di Jepara.” Pendhapa 10(1). doi: 10.33153/pendhapa.v10i1.2938.
Hasan Shadily. n.d. “Ornamentik Prasejarah Sebagai Dasar Seni Hias Indonesia.”
Kirk dan Miller. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif.
Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. edited by P. R. Cipta. Jakarta.
M. Darori Amin. 2000. Islam Dan Kebudayaan Jawa. edited by Gama Media. Yogyakarta.
Ramadhan. n.d. “Masjid Mantingan Bangunan Bersejarah Peninggalan Ratu Kalinyamat.” Metrotv.
Setiawan, A. 2009. “Ornamen Mesjid Mantingan Di Jepara Jawa Tengah.”
SP. Gustami. 2003. Seni Kerajinan Mebel Ukir Jepara.
Subandi. n.d. “No Titl.” 37.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Muhammad Ilham Ainun Nijam, Yusuf Falaq

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.




